Belajar Mengatur Keuangan Dari Embu

mengatur keuangan
Ilustrasi mengatur keuangan (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Kebiasaan embu panggilan saya kepada nenek dari pihak Bapak, setiap menerima uang hasil penjualan panen padi sebagian dibelikan emas setelah dikurangi hal lainnya. 

Waktu kecil saya tidak mengetahui kebiasaan itu. Kebiasaan itu baru saya ketahui saat dewasa. Setelah diberitahu bapak dan adik.

Setelah saya telusuri lebih jauh. Sebagai seorang petani, embu dalam mengatur keuangan membaginya ke empat pos.

Untuk Biaya Hidup

Hasil panen padinya selalu disisihkan untuk biaya hidup. Sebagai orang yang hemat, biaya hidupnya setahu saya tidak terlalu besar.

Berapa jumlah persisnya. Saya kurang tahu. Tidak etis rasanya menanyakannya.

Penggunaan pos biaya hidup dilakukan oleh embu berdasarkan prinsip kebutuhan. Beliau membeli apa yang menjadi kebutuhan saja.

Untuk Beli Emas

Setiap hasil panen pasti selalu dibelikan emas. Sayangnya, emas yang dibelikan merupakan emas perhiasan. Bukan batangan.

Emas inilah yang akan dijual ketika ada keperluan mendadak. Apakah membantu anak dan cucunya maupun saudara. Bahkan dari emas inilah bisa membeli rumah untuk dibagikan kepada anaknya. Maupun membeli lahan pertanian dari orang yang membutuhkan duit.

Setahu saya, dari emas ini pula kebutuhan akan biaya haji ikut terpenuhi di periode 90-an.

Persepsi saya emas yang selalu dibelinya kala panen dikategorikan sebagai dana darurat.

Tabungan

Nenek selalu menyisihkan duitnya di tabungan. Anak-anak terkadang cucunya akan disuruh ke bank untuk mengisi tabungannya setelah menjual hasil panen.

Duit di tabungannya sepengetahuan saya digunakan sebagai dana darurat layaknya emas yang dikoleksinya. Penggunaannya hampir sama seperti emas yang dikumpulkannya. Digunakan saat ada kebutuhan darurat.

Charity

Saya nggak tahu kata yang tepatnya. Setiap habis panen, nenek pasti membagikan uang hasil panen kepada ketiga anaknya. Terkadang memberikan kepada cucu yang membutuhkannya.

Sebagai orang Sunda, embu pasti akan memberikan sumbangan kepada musholla dekat rumahnya sehabis panen.

Sederhana dalam mengatur keuangan. Namun hal ini yang membuatnya mandiri tanpa mengharapkan pemberian anak maupun cucunya.

Karena setiap pemberian anak maupun cucunya pasti akan selalu disimpan tanpa pernah digunakan.

Almarhum ibu serta adik saya pernah merasakannya. Setiap bulan mereka berdua selalu memberikan uang kepada embu. Keduanya diberikan perhiasan emas saat berkunjung ke kampung waktu hari lebaran.

Saya yang terhitung jarang memberikan uang kepada embu. Pernah merasakannya. Ketika anak saya Nazya (cicitnya) pulang kampung. Embu memberikan gelang dan cincin masing-masing dua buah.

Belajar dari mengatur keuangan dari embu ternyata sederhana. Membaginya dalam empat pos. Tapi kesederhaannya mengatur uang tentu harus dibarengi dengan sikap HEMAT. Tanpa itu semua akan menjadi sia-sia belaka.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: