Resesi Itu Nyata

Sabtu kemarin, 7 November. Sembari mencari mesin cuci baru. Berbincang dengan penjual elektronik langganan di daerah Nusa Indah Pontianak.

Dalam pembicaraannya kepada saya, ia mengutarakan kalau saat ini penjualan merosot cukup tajam. Turun 50 persen ungkapnya sambil menjelaskan mesin cuci yang akan kubeli.

Bahkan dalam perbincangannya, sang penjual mengatakan teman-temannya pun ikut terkena imbas resesi.

Dirinya mengungkapan kalau ada temannya yang berdagang bakso. Sebelum resesi, 12 kg daging olahan baksonya bisa habis dalam sehari namun sekarang hanya 6 kg daging yang habis.

Lalu ia menceritakan kawannya yang usaha ekspedisi k terjadi penurunan pengiriman barang hingga 50 persen saat sekarang.

Saat kutanya, apakah dirinya dan kedua temannya melakukan PHK. “Saat ini belumlah” ujarnya.

“Nggak tahu kalau besok-besok sih (ada PHK atau tidak)” tambahnya sambil mencatat alamat rumah saya agar pesanan mesin cuci dua tabung pesananku segera dikirim.

Pemerintah sendiri mengakui kalau saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat. Alasannya pendapatan masyarakat berkurang bahkan ada yang hilang.

Saya sendiri berusaha untuk mengurangi pengeluaran. Kebutuhan akan mesin cuci itu karena mesin cuci yang lama (satu tabung) sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kondisi ini memaksa saya untuk memangkas pengeluaran dengan cara menurunkan tipe mesin cuci dari satu tabung menjadi dua tabung.

Dengan memilih mesin cuci dua tabung artinya saya sudah menekan pengeluaran hingga 50 persen (perhitungan kasar saya). Dibandingkan memilih mesin cuci tipe terdahulu.

Memperkecil pengeluaran saat ini karena masa depan dan akhir dari wabah tidak ada yang pasti. Sudah banyak orang yang kehilangan penghasilan karena padebluk ini. Ada banyak kasus soal ini. Bertanyalah pada orang disekeling kita.

Padebluk corona membuat beberapa kawan saya menambah daftar angka pengangguran. Kalaupun tidak di PHK, pemotongan gaji menjadi solusi akhir.

Akibat wabah ini pun ada banyak orang yang hidupnya dari penghasilan harian seperti loper koran, tukang ojek dan lainnya berkurang uang yang dibawa ke rumahnya.

Bagaimana dengan sisi mental. Karena setiap orang berbeda dalam menerima tekanan hidup. Ada yang kuat dan tidak.

Orang yang depresi karena resesi pasti ada. Berapa banyak?. Saya, kamu dan kita tidak tahu berapa banyak yang depresi karena resesi. Mungkin akan ada penelitian tentang dampak resesi terhadap kesehatan mental. Siapa tahu.

Atau coba tanyakan kepada psikolog mungkin juga psikiater. Sudah berapa banyak orang yang menyambanginya untuk sekedar menceritakan masalahnya akibat resesi.

Semoga padebluk dan resesi segera berakhir sebelum garansi mesin cuci saya berakhir.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: