Rumah

Share

Mimpi punya rumah bagi sebagian orang adalah keinginan luhur. Saya beruntung memilikinya. Walaupun masih kredit.

Tanpa kredit dari bank rasanya berat. Mengharapkan warisan orang tua, ah tentu saja itu hal yang tidak mengenakan. Apalagi sebagai seorang perantau tanpa sanak famili. Punya rumah jadi kewajiban.

Sebelum menikah, saya nekad ambil kredit rumah. Alasannya sederhana. Daripada tiap bulan bayar kost-an lebih baik duitnya dipakai untuk cicil rumah. Toh, cicilannya tidak besar. Hanya Rp 700 ribuan per bulan.

Soal luas tanah. Cukuplah untuk seorang bujangan saat itu. 200 meter persegi. Kualitas bangunan, tidak usah dipertanyakan. Maklum rumah subsidi. Saat itu, saya menganggapnya beli tanah. Bangunan hanyalah bonus. Toh, jarang juga saya menempatinya, paling dalam seminggu hanya dua hari menempatinya. Masih sering pergi-pulang dari Pontianak ke Entikong.

Begitu menikah. Keinginan memperbaiki rumah timbul. Pertimbangan lingkungan membuat saya membatalkannya.

Kata orang, menikah akan menambah rezeki. Ternyata itu benar.

rumah
Salah satu sudut rumah yang dipakai anak bermain.

Dipikir-pikir dari pada memperbaiki rumah. Akhirnya nekad beli rumah kembali secara kredit. Kali ini mempertimbangkan kualitas bangunan, akses jalan, (kemungkinan) lingkungan, dan track record pengembang.

Empat pertimbangan itu tentu saja sebanding dengan uang yang harus dikeluarkan. Harapannya ada kenyamanan dan ekspetasi akan lingkungan yang harmonis.

Saya tak membayangkan bila masih tinggal di Jakarta. Dimana harga rumah begitu tinggi dan tak terjangkau bagi sebagian orang. Kalaupun bisa, mungkin di pinggiran Jakarta. Tentu saja hal yang melelahkan. Tinggal di pinggiran Jakarta dan kerja di Jakarta. Berapa banyak waktu yang terbuang di jalanan. Dan adakah waktu untuk keluarga?.

Rumah mungil dan tenang sudah cukup bagi saya. Terpenting bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.

Saya tidak sependapat dengan Fenni Rose. Rumah merupakan investasi. Bagi saya, rumah adalah tempat berteduh dari segala problematika kehidupan.

Kalaupun punya dua rumah itu karena ajaran orang tua serta kakek dan nenek saya. Dimana mereka mempunyai rumah sebanyak jumlah anaknya. Apakah anaknya akan menempati, itu urusan lain. Tapi sebagai orang tua, menyiapkan bekal tempat tinggal bagi anaknya saat dewasa itu sebuah keharusan. Seperti kewajiban orang tua mengurus anaknya.

postingan ini bagian dari one day one post.